Tag: Islam

  • Batu Permata Bulan Ramadhan

    Batu Permata Bulan Ramadhan

    Alkisah pada zaman dahulu raja Iskandar Zulkarnain akan mengajak pasukannya untuk berkunjung kesuatu tempat. Sebelum mereka berangkat sang raja berpesan kepada pasukannya “dalam perjalanan nanti kita akan melewati sebuah sungai, ketika kalian menyeberangi sungai tersebut ambillah apapun yang kalian injak”. Setelah memberikan pengarahan, pasukanpun berangkat.

    Matahari terbenam, hari menjadi gelap, sampailah mereka ditepi sungai. Kini pasukan terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mulai menyeberangi sungai, namun ternyata kelompok pertama ini tidak mengindahkan perintah dari sang raja tadi, mereka hanya sekedar menyeberangi sungai dan yang penting selamat.

    Kelompok kedua mulai menyeberangi sungai, mereka mematuhi perintah sang raja untuk mengambil apa yang merka injak disungai, namun kelompok kedua ini hanya mengambil sekedarnya saja hanya untuk mengikuti perintah sang raja.

    Lain halnya dengan kelompok yang ketiga, ketika mereka melewati sungai, apapun yang mereka injak diambil dan dimasukkan kedalam tas mereka masing-masing hingga tas mereka berisi penuh dengan benda-benda sungai yang mereka injak.

    Semua pasukan telah melewati sungai sang rajapun bertanya kepada para pasukannya “apakah kalian mengetahui yang ada pada dasar sungai tadi?” kemudian para pasukanpun menjawab tidak pada pertanyaan sang raja. Kemudian sang raja berkata “ketahuilah wahai pasukanku bahwa apa yang ada didasar sungai tadi adalah batu-batu permata”. 

    Para pasukanpun terkejut setelah mengetahui hal tersebut, kelompok pasukan ketiga dengan wajah penuh kebahagiaan karena telah memenuhi tas mereka sedangkan kelompok pasukan kedua dengan wajah datarnya karena mereka menyadari bahwa telah melewatkan kesempatan mendapatkan batu permata sebanyak-banyaknya, namun wajah penuh penyesalan begitu terlihat pada kelompok pertama yang tidak mengindahkan perintah raja dan tidak membawa apapun ditas mereka.

    Kisah diatas merefleksikan kehidupan kita didunia ini yang bisa diibaratkan sebagai sungai, terlebih yang sedang kita lewati adalah sungai penuh permata dibulan Ramadhan ini. Diwaktu yang tinggal setengah bulan ini, sudah berapa banyak “batu permata” yang kita kumpulkan? Pertanyaan itu menunjuk kepada diri saya sendiri beserta iringan pertanyaan lanjutan, sudah berapa juz yang kita baca? sudahkah kita meningkatkan amalan sunnah kita? sudahkah kita meningkatkan kualitas sedekah kita?

    Kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepada Allah, diwaktu yang tinggal sedikit ini marilah kita maksimalkan dalam mengambil “batu permata” dibulan Ramadhan.

    Semoga bermanfaat.

  • Terorisme, Jihad dan Penyebaran Islam

    Terorisme, Jihad dan Penyebaran Islam

    Assalamualaikum pembaca cms.imamsuro.com/. Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat, bahagia, kaya raya dan sempurna. Aamiin.

    Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang sesuatu yang saya dapatkan dari kuliah subuh tadi di masjid. Jadi begini para pembaca, ada sebuah pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda. Pertanyaannya adalah seperti para paragraf dibawah ini.

    Kalau Anda ingin menangkap beberapa ayam yang ada dipekarangan halaman, strategi apa yang akan Anda gunakan?

    1. Menggunakan senapan angin.
    2. Mengejar ayam.
    3. Menaruh umpan dan menyiapkan kurungan.

    Mari kita bahas setiap poin dari jawaban diatas mulai dari pilihan pertama yaitu menggunakan senapan angin. OK, kalau kita gunakan senapan angin maka kita perlu satu peluru satu ayam dan yang namanya ayam nggak diam-diam ditempat melainkan jalan-jalan atau berlarian. Diperlukan kemampuan semacam sniper untuk mengalahkan satu ekor ayam.

    Poin kedua kalau kita menangkap ayam dengan mengejar ayam maka sudah dibayangkan bagaimana susahnya kejar-kejaran sama ayam, apalagi dilihat tetangga, maka yang ada adalah kegaduhan.

    Poin ketiga adalah kita mengeluarkan modal segenggam beras atau segenggam jagung kemudian dengan panggilan khusus ayam yang sudah universal diseluruh jagad raya baik dunia nyata maupun dunia nyata yaitu “kur kur kur“. Kemudian ayam-ayam itu mendekat, sedangkan yang namanya ayam kalau mematuk makanan itu selalu menunduk jadi ngga tau kalau diatasnya ada kurungan yang siap untuk mengurungnya tanpa menganggu tetangga dan tanpa membuat kegaduhan dilingkungan sekitar.

    Penyebaran Agama Islam

    Sepertinya kita semua setuju bahwa penyebaran agama Islam di nusantara ini dapat diibaratkan seperti poin ketiga. Pada tahun 1300 an wali songo datang ke Indonesia, dimana pada waktu itu Indonesia adalah sebuah negara musyrik paling besar didunia. Bagaimana tidak? Kita lihat saja candi Borobudur di Magelang itu lebih besar dari candi Budha yang ada di Thailand, bahkan masuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban didunia. Kalau kita lihat candi Prambanan di Jogja juga tidak kalah megah dari ketinggiannya dan arsitekturnya.

    Islam disebarkan oleh para Wali Allah sebelum penjajahan, disebarkan dengan kedamaian, tanpa kegaduhan, tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Kita bisa lihat salah satu contoh pendekatan sunan Kudus yang membangun masjid Al-Aqsa di Kudus. Masjid yang dari luar terlihat seperti Pura itu memberikan pesan bahwa dahulu sunan Kudus menyebarkan agama Islam dengan cara yang halus. Penduduk beragama Hindu dapat dengan mudah memasuki masjid Al-Aqsa tanpa rasa sungkan, walaupun setelah memasuki gapura didalamnya terdapat sebuah masjid. Bahkan sunan Kudus itu melarang umat Islam untuk menyembelih sapi ketika hari raya Idul Adha, mengapa? Karena menjaga perasaan –yang mewakili jiwa– umat Hindu. Coba bayangkan, perasaan, jiwa aja dijaga apalagi raga coba?

    Tuduhan terorisme yang dilekatkan pada umat Islam sekarang ini sangatlah jauh dari kenyataan yang ada. Dimana sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai zaman Wali Songo bahkan hingga saat ini terbukti bahwa dimana negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam maka penduduk yang bukan Islam akan dihormati, dilindungi bukan seperti penduduk agama Islam yang menjadi minoritas, mereka dikucilkan, dilarang beribadah, bahkan masjid-masjid dibakar. Itulah kenyataannya.

    Kalau dalih jihad para teroris mempunyai landasan QS. Al-Baqoroh: 110 maka itu adalah salah besar, karena kita boleh memerangi suatu kaum ketika kaum tersebut lebih dahulu memerangi kita.